Dalam perspektif filsafat / budaya, manusia merupakan pusat kehidupan, Ini tampak jelas dalam struktur tanah ulayat (lingko) dan rumah adat (mbaru niang). Dalam struktur lingko manusia,
Filsafat manusia Manggarai diungkapkan dalam goet:
Gendang One (Ine wai?) - Lingko Peang (Ata Rona)
1. Gendang One (Ine wai?)
Gendang One (Rumah Adat - Mbaru Niang), salah satunya "Niang Wowang Todo"(lihat gambar di bawah ini)
Megalitik Todo
http://sailkomodo2013.nttprov.go.id/index.php/destinasi/2012-12-10-05-53-40/manggarai/166-megalitik-todo
- Dibuat pada Kamis, 03 Januari 2013 02:01
Terletak di Desa Todo, Kec. Satar Mese
Barat, Kab. Manggarai, Kampung tua yang memiliki halaman yang
dikelilingi batu tersusun rapi merupakan asal muasal kerajaan Manggarai.
Di sini terdapat Rumah Adat (Niang) bernama “NIANG WOWANG”, Tambur
Kecil yang terbuat dari kulit perut seorang gadis (Loke Nggerang) dan
meriam-meriam kuno. Satu-satu ciri khas kampung Todo adalah Niang Todo,
sebuah rumah adat berbentuk bundar beratap jerami yang diketahui
merupakan istana raja Todo tempo dulu.
Mbaru = mbau ru (ine wai). Hanang ine wai ( ata loas ata manga mbau / ka'e / plasenta) - 9-1-2014.Wanita /perempuan identik dengan rumah, maka seorang ibu yang sudah berkeluarga disebut ibu rumah tangga. Tangga-tangga kehidupan berkeluarga diketahu secara baik oleh seorang ibu.
Mbaru = mbau ru (ine wai). Hanang ine wai ( ata loas ata manga mbau / ka'e / plasenta) - 9-1-2014.Wanita /perempuan identik dengan rumah, maka seorang ibu yang sudah berkeluarga disebut ibu rumah tangga. Tangga-tangga kehidupan berkeluarga diketahu secara baik oleh seorang ibu.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
2. Lingko Pe'ang (Ata Rona?)
http://dananwahyu.com/2013/01/28/explore-timor-flores-2012-part-27-lingko-spiderweb-rice-field/
Dalam pikiran saya, Flores identik
dengan sabana kuning gersang. Namun siapa sangka di Manggarai ada dataran luas
dengan hamparan sawah ijo royo-royo mirip foto karya Adi
Wiratmo, salah satu foto terbaik Dji Sam Soe Potret Makaharya Indonesia.
Tidak mengherankan kabupaten Manggarai menjadi lumbung padi propinsi Nusa
Tenggara Timur dengan surplus produksi hingga 30.000 ton per tahun.
Jika di Bali mengenal sistem
persawahan Subak untuk mengatur irigasi. Maka dalam masyarakat Manggarai
terdapat tradisi pembagian tanah , Lingko. Mereka menganalogikannya
seperti gula dalam manisnya madu – tembong one, lengko pe’ang .
Berarti gendang di dalam, tanah ulayat di luar.Di mana sebuah gendang yang
menggantung di tiang utama sebuah rumah induk adat (Mbaru Gendang).
Manifestasi kekuasaan adat beserta pemangkunya (dalu dan tua teno), satu
ungkapan territorial kekuasaan.
Lingko wujud perkembangan budaya masyarakat Flores dari nomaden di
hutan menjadi menetap bercocok tanam – agraris. Layaknya manusia, Lingko
memiliki nama seperti nama tumbuhan. Status kepemilikannya hak komunitas
dan besaran tanah diatur dengan sistem Lodok. Luasnya tergantung jumlah
penerima hasil, relasi dengan para tuan tanah serta status dalam sebuah beo.
Tu’a teno biasanya mendapatkan bagian terbesar karena memiliki banyak
tanggung jawab.
Pada bagian tengah sawah ditanam teno
– kayu titik pusat – yang menjadi poros pembagian lingko. Filosofinya
sesuai dengan bentuk Mbaru Niang – rumah tradisional – di desa Wae Rebo
atau Pu’u. Dimana setiap rumah memiliki siri bongkok – tiang pancang
utama di tengahnya dan dikelilingi delapan tiang penyangga luar , siri leles.
Di daerah Cancar , teno yang ada di tengah lingko ditanda oleh
kayu berbentuk ketuhanan yaitu , mangka.
Akses menuju Cancar cukup mudah,
berjarak 12 kilometer dari Ruteng. jika sudah menemukan keramaian
pertigaan pasar Cancar akan mudah mencari bukit tempat melihat Lingko.
Bersama guide – Bapak Blasius
– kami mendaki bukit di belang rumahnya. Menapaki tanah merah berbatu,
jaraknya tidak jauh tapi tingginya cukup untuk memompa jantung bekerja keras.
Hembusan dan tarikan nafas berpacu menghirup oksigen dan melepas gas
karbon dioksida pagi hari. Segar tapi melelahkan. Sepuluh menit
kemudian terlihat 14 lingkaran besar larik sawah berbentuk sarang
laba-laba dengan panorama gunung dan langit. Lingkaran ini merupakan lingko
yang dimilik masing-masing kampung. Kampung Dumu dan Meler masing-masing
memiliki 3 lingko. Sedangkan kampung Cara, Veon, Laja, Mangge ,
Nggawang, dan Sampar memiliki 1 lingko. Di dalam lingko
terdapat lodok yang dimiliki oleh beo – pewaris tanah – dan
pendatang yang menikah dengan masyarakat setempat.
Lingko memang unik dan indah , menjadi tempat ideal bagi pecinta
fotografi mengabdikan “sarang laba-laba” di bumi Flores. Namun sejogjanya
kita tidak hanya mengaguminya tapi merenungkan makna filosofinya lebih
dalam. Bayangkan jika sawah di seluruh nusantara diatur
dalam sistem adat seperti Lingko. Tidak akan ada lagi areal
persawahan beralih fungsi menjadi komplek perumahan atau pabrik. Dan negeri ini
mampu mencapai swasembada pangan yang sesungguhnya.
***
Tulisan ini diikutkan dalam lomba
blog Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indoenesia. Inspirasi foto bertajuk ”Hijau
Negriku” oleh Adi Wiratmo.
- Monisme. Neka woleng tuka one, neka lewang tuka peang. ipung sa tiwu neka woleng wintuk (seia - sekata), Nai sa anggit tuka sa leleng, (sehati sepaham), - pake sa wae neka woleng tae (ikan kecil sekali jangan berlainan perilaku, katak seair jangan berbeda kata), teu sa ambong neka woleng jaong, muku sa pu' neka woleng curup (tebu serumpun jangan berlainan kata, pisang serumpun jangan berbeda tutur) . Kesatuan jiwa dan raga. Ketika raga katakan tidak, jiwa mengiyakan tidak. Lihatlah kisah Nggerang. Karena menolak pinangan Raja Bima dia dibunuh dan kulit tubuhnya dibuatkan Gendang (Nggerang). Namun, ketika gendang itu diantar ke Bima, ombak besar menghadang perahu dan rombongan. Arus menyeret rombangan pengantar Nggerang dari Gili Banta di Laut Flores menuju Laut Sawu (Selatan Flores). Lalu arus menghempaskan mereka di Pulau Sumba, gagal tiba di hadapan Raja Bima di Pulau Sumbawa. Jiwa dan badanya Nggerang sepakat, menyatu untuk menolak Raja Bima. (JPS - 15 n 20 Jan. 2014)
- Na' waen pake, na' uten kuse, na' tibun ipung (katak sisakan kuah, kepiting sisakan sayur, ikan sisakan bambu balut bungkusan . Frase ini mau mengungkapkan bahwa akan ada pewarisan sifat dari leluhur(kakek / nenek kepada keturunan ( orang tua / anak). Roh nenek moyang akan menyertai keturunan.
- Toe nganceng pola hanang koe betong setede ( Tidak bisa pikul seorang diri bambu satu pohon). Goet ini mau menunjukkan aspek sosial (kolektif) hidup manusia Manggarai bahwa hidup itu perlu kehadiran orang lain dalam rangka menciptkan kehidupan yang lebih baik.
- Neka ngong ata lombong lala kali ngong ru lombong muku (Jangan bilang orang lain jelek (lombong lala) padahal diri sendiri lebih jelek (lombong muku). Goet ini mengajarkan orang Manggarai untuk menggugat diri terus menerus, melihat dan membenah diri sendiri dulu sebelum mengeritik orang lain. Socrates: Gnoti Seauton (JPS 15 Jan. 2014)
- Ata one, ata pe'ang (orang dalam, orang luar). Goet ini menegaskan bahwa ada pemisahan yang tegas antara anak laki-laki dan wanita. Anak laki-laki (ata one) merupakan orang dalam yang berhak atas apa harta warisan orang tua (rumah, tanah, harta kekayaan, adat istiadat (seki)) sedangkan perempuan adalah orang luar (ata pe'ang) yang harus meninggalkan rumah serentak tak memiliki hak atas rumah, tanah dan harta warisan orang tua. Perempuan akan mengikuti suami dan adat istiadat suaminya.
- Neka na' bajar data nia tutus kin nai rum (jangan ikut membeo apa yang orang katakan tetapi yakinlah akan pendirianmu sendiri). Goet ini mengajarkan betapa penting memiliki rasa percaya diri dalam menjalani kehidupan.
- Pati gici arit, cingke gici iret (bagi seadil-adilnya,belah dengan sebijaksana mungkin). Goet ini mengajarkan keadilan sosial dalam hidup bermasyarakat. Sesuatu yang menjadi properti umum harus dibagi seadil-adilnya. (18 Jan. 2014).--- Keadilan.......(menurut filsuf siapa?. Coba simak Keadilan menurut : Aristoteles,, Plato,Thomas Aquinas, John Rawls).
- Wai' woleng lampa, lime woleng wejong ( kaki berlainan langkah, tangan berlainan ayun = masing-masing orang khas. Keindahan tampak dalam perbedaan ibarat langkah kaki yang berlawanan dengan gerak tangan. Paduan serasi bila tampak dalam langkah kaki kiri dipadukan dengan gerak tangan kanan, langkah kaki kanan, gerak tangan kiri).(JPS - 20 Jan. 2014)
- Neka inung toe nipu (janganlah minum sembarangan), neka hang toe tanda (jangan makan tanpa mencoba terlebih dahulu), neka toko toe mopo (jangan tidur sembarangan), neka gega toe belar (jangan berbuat seenaknya). Neka lengga wakas (jangan melangkahi gelaga), neka lage alu (jangan melangkaki alu), neka wedi repi, neka lage sake (jangan melangkahi adat istiadat, jangan melanggar adat). Goet ini mengajarkan orang agar memiliki integritas moral kehidupan.
- Toe nganceng lait kole ipo wa tana (Tidak bisa jilat kembali ludah di tanah). Goet ini mau mengajarkan agar perlu menjaga dan mengontrol kata-kata yang terucap melalui mulut karena kata-kata yang terlah terucap tak bisa ditarik kembali.
- La'it pa'it, detak nggera, dempul wuku tela toni (mencicipi kepahitan, merasakan keasinan; kuku tumpul, punggung terbakar - karena bekerja). La'it pa'it kudut jari, detak nggera kudut menang / benar (mencicipi kepahitan demi kesuksesan, merasakan keasinan untuk menang /benar); kuku tumpul, punggung terbakar - karena bekerja). Goet ini mengajarkan bahwa untuk sukses harus melalui pengorbanan / penderitaan (la'it pait) dan perlu mengalami "asin"nya perjuangan. Tiada kesuksesan tanpa perjuangan, tiada kebahagiaan tanpa penderitaan.
- Seru wohe,lando teu, te' muku (cocokan hidung kerbau akan lapuk, tebu akan berbunga - tanda tua / uzur - pisang akan masak lagu hancur). Goet ini mengajarkan segala sesuatu ada masa kedaluwarsanya. Hidup manusia sepertimaterial lain, ada masa berlakunya, akan tiba saatnya untuk tak berdaya. Karena itu penting untuk tidak menyombongkan diri tapi milikilah sikap rendah hati. (VMG n JPS 26 n 27 Jan. 2014).
- Silung wintuk, saling nai (Ubah sikap, tata hati). Go'et ini mengajak untuk mengubah perilaku hidup demi meraih hidup yang lebih baik. ( VMG 27 Jan. 2014).
- Neka songa bail rantang pika bokak, neka tenggu bail rantang kepu tengu (Jangan terlampau tengadah, biar leher tak digorok, jangan terlampau tunduk, jangan sampai tengkuk dipenggal). Go'et mengajarkan agar perlu hati-hati. Boleh bangga diri tetapi jangan sampai berlebihan karena nanti dibilang sombong. Orang sombong cenderung merusak, baik bagi dirinya maupun orang lain. Orang model begini berbahaya. Sebaliknya, jangan terlalu merendah, karena nanti dianggap hamba. Orang yang merendahkan diri juga berbahaya karena bisa menrugikan orang lain dan dirinya sendiri.
Dalam mitologi Manggarai, manusia Manggarai berasal dari bambu. Kisah kelahiran manusia dari bambu ini dikenangkan dalam tutur adat (goet): "Bok one mai betong, bengkar one mai belang." (Tunggul / tunas yang berasal dari bambu (betong), sosok yang mekar dari bambu (belang). Bambu (betong) dalam pertumbuhannya memiliki orientasi menengadah ke atas (mulai dari tunas hingga masa tertentu,) lalu setelah itu tunduk runduk menatap tanah. "Betong hitu du wangkan mana awang, poli hitu ndegut mana tana (Bambu itu pada awalnya menatap angkasa setelah itu menatap tanah). Pesan yang mau disampaikan bahwa manusia manggarai adalah makhluk rohani (spiritual) yang erat melekat dengan realitas bumi. Orang Manggarai adalah makhluk rohani (jiwa) dan jasmani. Kerohanian orang Manggarai itu membumi, tidak mengawang-awang. Bambu juga bergerak beriringan, kompak bergerak ketika ditiup angin / badai. Di sini, simbol yang hendak diungkapkan bahwa orang Manggarai merupakan kommunio (komunitas), kelompok. Sulit membayangkan orang Manggarai tanpa komunitas (kelompok). Inilah dua inti sari Manusia Manggarai sebagai manusia bambu. Pesan ini memiliki makna yang dalam. Untuk tetap mengaktualkan pesan ini, nenek moyang Manggarai mewarisinya dalam ajaran berupa lagu-lagu rakyat, berupa sanda. Dalam nyayian adat dikenal dengan lagu "Sanda Gurung". (VMG n JPS, 17 Mei 2016. Inspirasi di pagi hari hari saat jogging di VMG).
Nama memiliki makna sakral (karena dimeterai dengan darah)
Setiap orang memiliki nama. Nama merupakan simbol identitas diri (suku). Orang Manggarai memiliki 3 nama:
- Nama ayam (ngasang manuk) / ngasang setu'n (sebenarnya): nama yang diberikan ketika pengesahan nama yang disyahkan dengan cara membunuh ayam jantan dalam acara sear sumpeng (pembongkaran tungku api dari kamar ibu dan bayi, sebagai ungkapan bahwa si bayi bisa diperlihatkan kepada dunia dan ibu bisa melakukan pekerjaan lain selain mengasuh bayi dan anak semakin kuat dan mandiri dengan diberi nama. Untuk mengesahkan acara pemberian nama ini,seekor ayam jantan disembelih sambil nama anak itu disebutkan .Nama ayam misalnya Ngganggu,Jenaut, Jelata, Jelami,Jelita, Jelahut, Baduk, Namal. Nama (nama ayam / sebenarnya (setu'n) bermakna sakral.Mengapa karena disyahkan dengan darah (ayam). Maka nama itu harus dihormati, jangan dipermainkan.Klau disebut, disebut dengan hormat. Jangan dilecehkan (nggepas /loer).Untuk menyapa harus menggunakan nama lain, jangan sapa langsung / lancang (nggepas).Siapa yang menyapa nama ayam(setu'n) apalagi dengan lancang (nggepas) disebut sebagai orang yang tidak kenal peradaban dan sopan santun adat stiadat Manggarai.Hal itu menimbulkan kemarahan bagi pemilik nama.
- Nama panggilan (ngasang benta /koe) /nama baptis . Karena nama ayam adalah sakral,maka tak usah disebut / dipanggil, maka dalam rangka kelancaran komunikasi, orang Manggarai menciptakan nama panggilan (ngasang koe),yang merupakan perhalusan dari nama itu, misalnya Nemo(dari Namal), Tenggong (Gaspar),Laluk (Babur), Habong (Habut). Bagi yang Kristen Katolik, nama baptis (agama - Kristen) bisa dipakai sebagai namapanggilan,misalnya Gaspar,Maria (Mery), Lita, dll.
- Nama anak (ngasang ema / ende). Nama anak adalah nama yang diberikan kepada seseorang bila mereka sudah memiliki anak. Maka mereka dipanggil berdasarkan nama anak,misalnya Bapa Jelita (Ema'd / Ende'd Jelita-Bapanya /mamanya Jelita). Menyapa orang Manggarai dengan sebutan nama anak (ngasang ema / ende) menunjukkan bahwa mereka sudah beralih status sosial dari manusia pribadi (individual) menjadi manusia kolektif (keluarga). Penyapaan nama keluarga (ngasang ame /ema / ende) berdasarkan nama anak pertama,misalnyabila nama anak pertama bernama Lita maka laki-laki yang sudah punya anak dipanggil Ema'd Lita (bapanya Lita), ibunya dipanggil Ende'd Lita (mamanya Jelita).
Dalam satu keluarga / suku nama (nama ayam /ngasang tu') orang Manggarai banyak yang bersinonim. Sebagai contoh saya ambil sejumlah Suku di Wela, Cancar, Kecamatan Ruteng ,Kabupaten Manggarai:
Ngasang data wela one neteng uku:
- Welo:
Banul -Najul - Jangu- Jeharut - Jalu - Jemabut - Jebabun - Makur -
Jaling - Aji - Maji - Jaling -
Ngabu - Sawul - Abut - Naul - Dajus - Nganul-Abu-Hangul- Habun- Manggu
Hutal -
Epong -
Disam - Bidan - Jiman -
Mandu - Harus -
- Nua1
Namal - Jaban - Aman -
Naru - Jehabur - Papu - Adur - Magung -
Hatal - Taman - Maman - Man - Jahan -
Ambok - Banor -
Mantol - Janor - Danor - Wangor - Wanggor
Bakal - Jeramat -
Buker - Uhet -
Dasor - Asong - Kaso - Aron -
Jemali - Pait -
- Nua2
Ngganggu - Jenaut - Jelahut -
Habut - Gawut - Daud -Mamut - Dangur - Ndarung - Banut / Lanut - Pandu.
Ngatul - Banur -
Babur /Laluk - Jeramun -
Apul - Nandus
Baduk - Balu - Jelahut - Danur - Dangur -
- Kawong
- Karot
Tanuk - Ngarum - Janggut -
Legem - Gem -
Ngapuk - Jemanu - Matul - Jelau -
Marut - Damus - Parus -Tadur -
Janggut - Dadul - Yus Banul ? - Banut -
Gem - Men -
........Parut - Jehau - Rasul -
Parut - Mandur -
Jehau - Danggur -
Jaru - Bandur - Jebaru - Gandur - Tagur
Karot - Mbohang:
Ragam - Selamat -
Salut - Mandur - Manggu -
- Wangkung
Kako - Agos - Agot -
Agos -
Makung - Patut - - Waru - Gadut
Kama - Aman -
Babur - Parut -
- Manu
...................
1. Suku Tanggar : Bakul - Padut - ...................
- Teno:
Hadut - Daduk - .......Jemaun
Wela - Ena -
Ker:
Jehadut - Jehalu - Anur - Danggur - Anggul - Gantur -
Thomas Joho- Anus Sandur - Theres.........
Ndiwar:
Ngantur - Gabu -Jeharut -Magul -
Tanggar:
Bone Bakul - vs Sebet Padut: Clara - Bosco - Ali - Nobert Kombek (Sema) - Mar - Lasa Belit - Anus Ndereng
Martinus Kamut (Lida)
Dese:
Linung - :
Galut - Magut - ......
Nua Taga:
Martha.......
Rerok - Mago
Tal - Ragan -
NB: Ada juga orang yang memiliki nama lain, yakni: paci (nama samaran) ,yakni nama yang mengungkapkan muatan /kandungan makna dalam dirinya berupa kekuatan batin (supranatural /rohani) atau keahlian dalam bidang tertentu,misalnya dalam permainan caci. Beberapa nama paci itu misalnya:
- Masyur Nera Beang Lehang Tana Bombang Palapa (Masyur Cahaya Semesta menembus Bumi Gelombang Palapa) - nama penguasa suku Todo - Pongkor
- Kode Rae Radi Ngampang Bali (Kera kuning tua .... Jurang sebelah menyebelah)
- Motang Rua Lalong Tana Manggarai (Motang Rua Pahlawan Manggarai)
- Lalong Lino
- Ntangis Lami rahit
- .................
- .........................
Paci, apa hitu?
Dot paci data, neho:
Kala rengga - reba Wela
Mesin Cetak - reba Wela / Tengka / Pengka
Selendang merah - reba Wela (Edu Sanor)
Tiang - Bilas
Sarung Bantal - reba / anak Pangga
Kapal Selam - reba Rehak
Jangka Lolang - .........(reba -.... Lolang?)
Tekur lelap / Tewa- Sewar.
Tekur tewa - reba Sewar / Rewas
Gadis Maning - ...................... (one dere Mai Porong Caci).
Gadis Tenar -reba Wela (Edu Sanor)
Piring kosong: reba Ngkor
Ntangis = lami rahit - Guru SMA 1
Yoker Merah reba Tengka
Tembak enak reba Tenda
Woja Kelang - Reba Wela (Alfons Jaban - Wela, saat caci di Teras-Rahong, 13-14 Sept. 2013).
Rata Lelap: Reba Wela
.....................................(pasi di Hila)
Garis Paning ( http://www.youtube.com/watch?v=hriDloV8ONU&list=PL50A98363FD7CE394)
Larik lepar: reba (anak) Golo Sepang
Ntala Gewang, reba Lentang (Lelak)
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusTerima kasih.
BalasHapus